Mendung
menyambangi udara pagiku. Pekat menyelimuti oksigen hatiku. Dan semakin gelap
melengkapi relung jiwaku. Nadiku menjulur kian memanjang menuju masa itu,
bersamamu. Empat tahun yang lalu.
“Kan ku
serahkan semua kursi wanita terhormat hanya untukmu saat aku menjadi raja
bagimu.” Janjimu padaku saat mata kita beradu rindu. Namun, hanya keyakinan
yang mampu aku balas untukmu.
“Kursi
ratu untukmu, kekasihku. Kursi selir untukmu, belahan jiwaku. Bahkan kursi
permaisuriku juga hanya untukmu, bidadariku. Sedetik pun takkan ku lupa warna
gurat senyummu.” Kembali kau mengurai semua rayu menghanyutkan jiwa terkuku,
aku. Genggaman kekar tanganmu memuncak rasa setiaku padamu. Ya, semua aku
luluhkan untukmu. Atas nama kesetiaan dan kepercayaan.
Saat ini.
Waktu berjalan, mendengarkan jeritan cinta ternoda. Waktu tak pernah lelah dan
bosan menampung suara-suara cinta terluka. Dan waktu membawamu dari dasar
terdalam kenikmatan seolah tanpa cela. Bersamanya, artis penuh eksotis dan
pesona, engkau tunduk hingga melupa.
“Tak
seharusnya aku setia hingga menemui dusta. Tak seharusnya aku percaya hingga
bersahabat dengan nestapa.” Protesku di depan wajahmu yang tengah berdua dengan
moleknya sang jelita.
“Kalau
kau tahu akibatnya, kenapa kau masih melakukannya? Seharusnya kau menghindari
itu, dan tidak perlu menuntut semua janjiku padamu. Paham?” dengan lenggangan
kesombongan kau masih bisa berkata-kata.
Segunung
lahar amarahku mengumpatmu,”Kau telah menjadi raja tak punya muka!!”
Selang
beberapa waktu. Gemerlap cinta artis pesolekmu berlalu. Raut eksotis penuh
pesona meninggalkanmu. Kau terbuang jalang. Hilang. Hingga tak satu pun biji
tanaman mengenalmu. Kau turun dari raja menjadi hina.
“Bidadariku,
mau kah kau memaafkanku? Kekasihku, ijinkan aku memelukmu kembali. Belahan
jiwaku, biarkan tangan hangatku membelai cintamu.” Lirih namun memikat
kata-katamu hampir menjeratku kembali. Tapi topeng kebohongan sangat jelas di
wajahmu. Raja hina penuh tipu, kini menjadi rakyat jelata penuh derita.
Diam. Aku
mendengar bujuk rayumu yang sebenarnya sangat menjijikkan bagiku. Kau berjanji
atas nama waktu, tapi tak sedetik pun kau memahami waktu. Kini, biarkan waktu
menganalmu.
Ujung
senja,
29
Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar