Halaman

Kamis, 01 Maret 2012

BIARKAN WAKTU MENGENALMU



Mendung menyambangi udara pagiku. Pekat menyelimuti oksigen hatiku. Dan semakin gelap melengkapi relung jiwaku. Nadiku menjulur kian memanjang menuju masa itu, bersamamu. Empat tahun yang lalu.
“Kan ku serahkan semua kursi wanita terhormat hanya untukmu saat aku menjadi raja bagimu.” Janjimu padaku saat mata kita beradu rindu. Namun, hanya keyakinan yang mampu aku balas untukmu.
“Kursi ratu untukmu, kekasihku. Kursi selir untukmu, belahan jiwaku. Bahkan kursi permaisuriku juga hanya untukmu, bidadariku. Sedetik pun takkan ku lupa warna gurat senyummu.” Kembali kau mengurai semua rayu menghanyutkan jiwa terkuku, aku. Genggaman kekar tanganmu memuncak rasa setiaku padamu. Ya, semua aku luluhkan untukmu. Atas nama kesetiaan dan kepercayaan.
Saat ini. Waktu berjalan, mendengarkan jeritan cinta ternoda. Waktu tak pernah lelah dan bosan menampung suara-suara cinta terluka. Dan waktu membawamu dari dasar terdalam kenikmatan seolah tanpa cela. Bersamanya, artis penuh eksotis dan pesona, engkau tunduk hingga melupa.
“Tak seharusnya aku setia hingga menemui dusta. Tak seharusnya aku percaya hingga bersahabat dengan nestapa.” Protesku di depan wajahmu yang tengah berdua dengan moleknya sang jelita.
“Kalau kau tahu akibatnya, kenapa kau masih melakukannya? Seharusnya kau menghindari itu, dan tidak perlu menuntut semua janjiku padamu. Paham?” dengan lenggangan kesombongan kau masih bisa berkata-kata.
Segunung lahar amarahku mengumpatmu,”Kau telah menjadi raja tak punya muka!!”
Selang beberapa waktu. Gemerlap cinta artis pesolekmu berlalu. Raut eksotis penuh pesona meninggalkanmu. Kau terbuang jalang. Hilang. Hingga tak satu pun biji tanaman mengenalmu. Kau turun dari raja menjadi hina.
“Bidadariku, mau kah kau memaafkanku? Kekasihku, ijinkan aku memelukmu kembali. Belahan jiwaku, biarkan tangan hangatku membelai cintamu.” Lirih namun memikat kata-katamu hampir menjeratku kembali. Tapi topeng kebohongan sangat jelas di wajahmu. Raja hina penuh tipu, kini menjadi rakyat jelata penuh derita.
Diam. Aku mendengar bujuk rayumu yang sebenarnya sangat menjijikkan bagiku. Kau berjanji atas nama waktu, tapi tak sedetik pun kau memahami waktu. Kini, biarkan waktu menganalmu.


Ujung senja,
29 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar