Tutur
katamu terasa sangat beringas. Tatap matamu terurai sangat ganas. Bahkan suara
deru jantungmu terlihat sangat jelas. Tujuh tahun yang lalu, saat kau
mengulurkan cintamu, Bagas.
“Pilihlah
aku, kelak aku akan menghapus semua hutang-hutangmu di salon kecantikan
langgananmu, membayar semua hutangmu di butik-butik favoritmu, Laras.” Renyah
terlontar rayuanmu yang tak terlihat bias.
Ragu
aku mengulum jurus mautmu, terdiam aku pada jemariku yang semakin meremas. Gaya
hidupku yang berada dalam kekayaan teduh tidak panas, kini harus menggembel
dengan kartu kredit yang sirkulasinya semakin tak jelas. Kau hadir dengan
sejuta sihir atas nama pertanggung jawaban, kau datang dengan seribu mantra
dengan dalih kemewahan, semua kau janjikan padaku, Bagas.
Namun
kini, ibarat masa jabatan kepala desa, kau memasuki tahun kedua pada periode
keduamu dengan sangat puas. Meradang aku menangisi nasib anak-anakku yang
menanggung seluruh tagihan rekening hedonism yang sangat bebas. Meraung aku
melihat generasiku yang kaya harus menuai ilmu di gedung yang sungguh pias.
Menjerit aku menyaksikan penerus ningratku menikmati makanan di pekumuhan yang
buatku gemas.
“Dulu
nenekku bergerilya tak kenal waktu untuk membangun asset-asset yang tak
terbatas. Tapi kini dengan jalang kau menjual, menggadaikan dan mengalihkan
asset yang bukan hakmu dengan cara menguras. Jahanam untuk usus perutmu semoga
terkolek lepas!” Pecah asaku untuk merdeka meski tanpa landas.
“Ahahaha…kau
menghujatku? Kenapa tidak sekalian saja kau minta cerai di pengadilan agama,
wahai bungas?” Ejekanmu seperti menatap mata wanita tak berkelas.
“Kau
tidak hanya jahanam, tapi kau juga telah menyuap pengadilan agama agar hubungan
kita tampak romantic dengan segala poles rias. Kau benar-benar lelaki buas!”
“Woww!
Kata-katamu terdengar kurang jelas….kau ingat direktur utama yang diberhentikan
oleh nenekmu tanpa sepasang alas?” Pertanyanmu buatku semakin waras. “Akulah
muridnya…wahai Laras.” Lanjutmu dengan seringai rendah kualitas.
“Kau
ternyata sungguh manusia cadas!” umpatku dengan segala bayangan masa lalu yang
melintas.
Kala itu. Nenekku telah dikhianati
oleh sosok yang bernama Abas, direktur utama di perusahaan Nenek hampir 35
tahun, Abas guru Bagas. Abas yang selalu bersikap lembut pada Nenekku ternyata
diam-diam dia menggerogoti semua berkas. Hampir amblas. Tidak berhenti sampai
di situ, Abas mewariskan ilmunya pada Bagas untuk mencuili berkas-berkas asset
tak terbatas hingga tuntas. Di hadapanku, Bagas semakin panas bernapas.
“Almarhum guruku berpesan agar aku
juga menghunusmu puas, Laras.” Belati tajam mengurai cacing-cacing kelaparan dalam
perutku hingga nadi melemas. Dunia gelap penuh aroma amis, namun angin segar
menghempasku pada Sang Pembuat Nas.
Ufuk penghentian.
Sebuah cerita untuk sang Bagas.
3 Maret 2012



