Halaman

Rabu, 29 Februari 2012

TERGORES KELOPAK MAWAR





Tak ada satu mata yang memandang. Tangisku semakin parau tidak tenang. Gundahku kian galau tiada alang. Aku…..sendiri tanpa suatu penghalang. Aku….menanti sesuatu yang tak pernah datang… “Mungkin.” Singkat padat dan jelas seperti itulah jawabanmu, aku hanya bisa terpaku. Merindu. Hahhhh…andai kau tahu, aku resah menatap jalanan tengah. Sampai pada pikiranku berhenti untuk bertengadah, memikirkanmu. Hanya bercerita tentangmu.
Namun, gerimis malam ini semakin membuatku terbenam. Menantimu diujung waktu buatku kelam.  Bayangmu semakin terpendar dalam. Aku hanyut mendambamu geram. Akan kah kau datang malam ini, Seram? Jujur…aku membutuhkanmu dalam benam.
“Hai, dimana? Aku udah di tempat.” Suaramu yang semakin buat hatiku lekat akan tentangmu, mencairkan bekuan penantianku.
“Tempat mana? Aku di depan mini market dekat masjid.” Bola mataku mengaduk-aduk jalan sepanjang mini market tempat aku berdiri. Namun, tidak ku temukan ujung rambutnya yang sedang berlari.
“Da!!!”
Serasa bumi berhenti berjalan saat aku merasakan tanganmu yang mengagetkanku. Kau datang menghampiriku, menjemput punggungku. Aku terpaku melihatmu.
Satu menit dalam diam. Raut wajahmu semakin dewasa. Senyum laki-lakimu semakin terasa. Tajam matamu menghunus hingga ke dada. Terpana. Bahkan detak jantungmu semakin menggoda.
“Dialah yang selama ini aku ceritakan.” Kau menarik lengan seorang gadis muda yang datang tiba-tiba. Sosok yang selama ini kau jadikan berita. Berita yang buatku GR, Gedhe Rasa.
Aku mengulurkan tangan kedamaian. Ku tuang senyum kehangatan. Gadis muda berambut panjang, berkulit sawo matang nan mulus, pandai bercerita dalam bahasa Italia ternyata bukan aku. Andai kau tahu aku masih menunggu, tentu kau tidak akan mencari pelabuhan lain yang sama. Kenapa harus berkarakter yang sama denganku?
Terpaku melihat kepergianmu bersama gadis mudamu. Diam tak bergeming. Apa kau tahu? Menunggumu bagai jaman tak kenal waktu. Menunggumu seperti sungai tak berbatu. Hingga buatku ragu tiada menentu. Terjatuh aku dalam bimbang sendu. Rasaku mengambang tak menentu hanya untuk menantimu.
Kini terurai basah. Bayanganku melekat pada gadis mudamu. Pada menit….ku hempaskan rajutan cintaku sebelum menyatu ukiran cinta suci denganmu.


Semarang, 25 Februari 2012.                       

Kamis, 23 Februari 2012

MENGGAPAI HATI

MENGGAPAI HATI
Di setiap detikku,
Jiwaku merintih sakit,
Perih karena tikaman.
Di setiap menitku,
Ruhku lunglai tak berdaya,
Getir karena sekapan.
Semua berlalu melewati hari,
Hingga tahun dan bertahun-tahun,
Sampai pada satu dekakde.
Kini, saat semua sudah berpendar,
Berpencar dan pudar tak berwarna.
Aku lumpuh tanpa teman.
Aku buta tanpa kawan.
Hidup bukan, mati pun bukan.
Meskipun…
Senyum tulus aku berikan.
Tangan hangat aku lontarkan.
Kepala dingin aku berikan.
Semua… hanya tuk menguatkan hati,
Bahwa aku masih bernyawa.
Aku masih bisa berdiri tegar.
Hingga datang ujung waktuku,
Semua mata menyalang, membenarkan.
Tentang cita cinta mata hatiku.
Cita cinta mata hati yang bertahun-tahun tertikam,
Tersekap… dan kini…
Cita cinta mata hatiku mulai menggeliat,
Mencari tangan tuk berdiri dan merdeka.
Merdeka! Mata batinku.
Merdeka!mata hatiku.
Hanya Tuhan yang mampu menguatkan.

18 Desember 2011.