Tak ada
satu mata yang memandang. Tangisku semakin parau tidak tenang. Gundahku kian
galau tiada alang. Aku…..sendiri tanpa suatu penghalang. Aku….menanti sesuatu
yang tak pernah datang… “Mungkin.” Singkat padat dan jelas seperti itulah
jawabanmu, aku hanya bisa terpaku. Merindu. Hahhhh…andai kau tahu, aku resah
menatap jalanan tengah. Sampai pada pikiranku berhenti untuk bertengadah,
memikirkanmu. Hanya bercerita tentangmu.
Namun,
gerimis malam ini semakin membuatku terbenam. Menantimu diujung waktu buatku
kelam. Bayangmu semakin terpendar dalam.
Aku hanyut mendambamu geram. Akan kah kau datang malam ini, Seram? Jujur…aku
membutuhkanmu dalam benam.
“Hai,
dimana? Aku udah di tempat.” Suaramu yang semakin buat hatiku lekat akan
tentangmu, mencairkan bekuan penantianku.
“Tempat
mana? Aku di depan mini market dekat masjid.” Bola mataku mengaduk-aduk jalan
sepanjang mini market tempat aku berdiri. Namun, tidak ku temukan ujung
rambutnya yang sedang berlari.
“Da!!!”
Serasa
bumi berhenti berjalan saat aku merasakan tanganmu yang mengagetkanku. Kau
datang menghampiriku, menjemput punggungku. Aku terpaku melihatmu.
Satu
menit dalam diam. Raut wajahmu semakin dewasa. Senyum laki-lakimu semakin
terasa. Tajam matamu menghunus hingga ke dada. Terpana. Bahkan detak jantungmu
semakin menggoda.
“Dialah
yang selama ini aku ceritakan.” Kau menarik lengan seorang gadis muda yang
datang tiba-tiba. Sosok yang selama ini kau jadikan berita. Berita yang buatku
GR, Gedhe Rasa.
Aku
mengulurkan tangan kedamaian. Ku tuang senyum kehangatan. Gadis muda berambut
panjang, berkulit sawo matang nan mulus, pandai bercerita dalam bahasa Italia
ternyata bukan aku. Andai kau tahu aku masih menunggu, tentu kau tidak akan
mencari pelabuhan lain yang sama. Kenapa harus berkarakter yang sama denganku?
Terpaku
melihat kepergianmu bersama gadis mudamu. Diam tak bergeming. Apa kau tahu?
Menunggumu bagai jaman tak kenal waktu. Menunggumu seperti sungai tak berbatu.
Hingga buatku ragu tiada menentu. Terjatuh aku dalam bimbang sendu. Rasaku
mengambang tak menentu hanya untuk menantimu.
Kini
terurai basah. Bayanganku melekat pada gadis mudamu. Pada menit….ku hempaskan
rajutan cintaku sebelum menyatu ukiran cinta suci denganmu.
Semarang,
25 Februari 2012.

