Halaman

Kamis, 08 Maret 2012

Kartu As



Tutur katamu terasa sangat beringas. Tatap matamu terurai sangat ganas. Bahkan suara deru jantungmu terlihat sangat jelas. Tujuh tahun yang lalu, saat kau mengulurkan cintamu, Bagas.
“Pilihlah aku, kelak aku akan menghapus semua hutang-hutangmu di salon kecantikan langgananmu, membayar semua hutangmu di butik-butik favoritmu, Laras.” Renyah terlontar rayuanmu yang tak terlihat bias.
Ragu aku mengulum jurus mautmu, terdiam aku pada jemariku yang semakin meremas. Gaya hidupku yang berada dalam kekayaan teduh tidak panas, kini harus menggembel dengan kartu kredit yang sirkulasinya semakin tak jelas. Kau hadir dengan sejuta sihir atas nama pertanggung jawaban, kau datang dengan seribu mantra dengan dalih kemewahan, semua kau janjikan padaku, Bagas.
Namun kini, ibarat masa jabatan kepala desa, kau memasuki tahun kedua pada periode keduamu dengan sangat puas. Meradang aku menangisi nasib anak-anakku yang menanggung seluruh tagihan rekening hedonism yang sangat bebas. Meraung aku melihat generasiku yang kaya harus menuai ilmu di gedung yang sungguh pias. Menjerit aku menyaksikan penerus ningratku menikmati makanan di pekumuhan yang buatku gemas.
“Dulu nenekku bergerilya tak kenal waktu untuk membangun asset-asset yang tak terbatas. Tapi kini dengan jalang kau menjual, menggadaikan dan mengalihkan asset yang bukan hakmu dengan cara menguras. Jahanam untuk usus perutmu semoga terkolek lepas!” Pecah asaku untuk merdeka meski tanpa landas.
“Ahahaha…kau menghujatku? Kenapa tidak sekalian saja kau minta cerai di pengadilan agama, wahai bungas?” Ejekanmu seperti menatap mata wanita tak berkelas.
“Kau tidak hanya jahanam, tapi kau juga telah menyuap pengadilan agama agar hubungan kita tampak romantic dengan segala poles rias. Kau benar-benar lelaki buas!”
“Woww! Kata-katamu terdengar kurang jelas….kau ingat direktur utama yang diberhentikan oleh nenekmu tanpa sepasang alas?” Pertanyanmu buatku semakin waras. “Akulah muridnya…wahai Laras.” Lanjutmu dengan seringai rendah kualitas.
“Kau ternyata sungguh manusia cadas!” umpatku dengan segala bayangan masa lalu yang melintas.
            Kala itu. Nenekku telah dikhianati oleh sosok yang bernama Abas, direktur utama di perusahaan Nenek hampir 35 tahun, Abas guru Bagas. Abas yang selalu bersikap lembut pada Nenekku ternyata diam-diam dia menggerogoti semua berkas. Hampir amblas. Tidak berhenti sampai di situ, Abas mewariskan ilmunya pada Bagas untuk mencuili berkas-berkas asset tak terbatas hingga tuntas. Di hadapanku, Bagas semakin panas bernapas.
“Almarhum guruku berpesan agar aku juga menghunusmu puas, Laras.” Belati tajam mengurai cacing-cacing kelaparan dalam perutku hingga nadi melemas. Dunia gelap penuh aroma amis, namun angin segar menghempasku pada Sang Pembuat Nas.

Ufuk penghentian.
Sebuah cerita untuk sang Bagas.
3 Maret 2012

Kamis, 01 Maret 2012

BIARKAN WAKTU MENGENALMU



Mendung menyambangi udara pagiku. Pekat menyelimuti oksigen hatiku. Dan semakin gelap melengkapi relung jiwaku. Nadiku menjulur kian memanjang menuju masa itu, bersamamu. Empat tahun yang lalu.
“Kan ku serahkan semua kursi wanita terhormat hanya untukmu saat aku menjadi raja bagimu.” Janjimu padaku saat mata kita beradu rindu. Namun, hanya keyakinan yang mampu aku balas untukmu.
“Kursi ratu untukmu, kekasihku. Kursi selir untukmu, belahan jiwaku. Bahkan kursi permaisuriku juga hanya untukmu, bidadariku. Sedetik pun takkan ku lupa warna gurat senyummu.” Kembali kau mengurai semua rayu menghanyutkan jiwa terkuku, aku. Genggaman kekar tanganmu memuncak rasa setiaku padamu. Ya, semua aku luluhkan untukmu. Atas nama kesetiaan dan kepercayaan.
Saat ini. Waktu berjalan, mendengarkan jeritan cinta ternoda. Waktu tak pernah lelah dan bosan menampung suara-suara cinta terluka. Dan waktu membawamu dari dasar terdalam kenikmatan seolah tanpa cela. Bersamanya, artis penuh eksotis dan pesona, engkau tunduk hingga melupa.
“Tak seharusnya aku setia hingga menemui dusta. Tak seharusnya aku percaya hingga bersahabat dengan nestapa.” Protesku di depan wajahmu yang tengah berdua dengan moleknya sang jelita.
“Kalau kau tahu akibatnya, kenapa kau masih melakukannya? Seharusnya kau menghindari itu, dan tidak perlu menuntut semua janjiku padamu. Paham?” dengan lenggangan kesombongan kau masih bisa berkata-kata.
Segunung lahar amarahku mengumpatmu,”Kau telah menjadi raja tak punya muka!!”
Selang beberapa waktu. Gemerlap cinta artis pesolekmu berlalu. Raut eksotis penuh pesona meninggalkanmu. Kau terbuang jalang. Hilang. Hingga tak satu pun biji tanaman mengenalmu. Kau turun dari raja menjadi hina.
“Bidadariku, mau kah kau memaafkanku? Kekasihku, ijinkan aku memelukmu kembali. Belahan jiwaku, biarkan tangan hangatku membelai cintamu.” Lirih namun memikat kata-katamu hampir menjeratku kembali. Tapi topeng kebohongan sangat jelas di wajahmu. Raja hina penuh tipu, kini menjadi rakyat jelata penuh derita.
Diam. Aku mendengar bujuk rayumu yang sebenarnya sangat menjijikkan bagiku. Kau berjanji atas nama waktu, tapi tak sedetik pun kau memahami waktu. Kini, biarkan waktu menganalmu.


Ujung senja,
29 Februari 2012